Tampilkan postingan dengan label Bidal Mengurus Rumah Tangga Zhu Zi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bidal Mengurus Rumah Tangga Zhu Zi. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2017

Episode 19

Dikutip dan diterjemahkan dari : "Seminar Hidup Bahagia – PenjelasanDi Zi GuiSecara Mendetail" oleh Guru Cai Lixu pada tanggal 19 Februari 2005 (Episode 18)

Teman-teman sekalian, selamat sore semuanya! Kita tadi pagi membahas tentang:
Zhǎng Hū Rén. Jí Dài Jiào. Rén Bú Zài. Jǐ Jí Dào.[Yang tua memanggil orang. Lekas membantunya memanggil. Orangnya tidak ada. Diri kita lekas sampaikan.]
Tindakan ini sangat penting, dan dapat dipergunakan secara luas, yakni etiket penerimaan, etiket penerimaan tamu. Mari kita lihat di dalam keluarga sekarang, anak-anak sekarang bisa menerima tamu tidak? Andaikata kebetulan tante datang, anak sedang bermain komputer di sana, dia akan bagaimana? Dia akan mengeluarkan suara nyaringnya: Ma, tante datang! Kaya begitu bagus tidak? Kalau terbiasa, dia pun sangat menyepelekan dan sangat sembrono, karena menghormati tetua berada di urutan kedua, apa yang paling penting? Permainan saya paling penting. Lama kelamaan, rasa hormat pun akan hilang. Jadi harus diajar. Siapa yang pernah mengajari anak untuk menerima tamu, angkat tangannya? Baik. Hal ini mempengaruhinya sangat mendalam, andaikan tata krama anak ini tidak dipelajari dengan baik, mungkin di sekolah dan tempat kerjanya di kemudian hari akan timbul kecanggungan.
Kami pun pernah mengajar anak-anak, dilatih satu per satu, bagaimana menerima tamu. Oleh karena itu, ayat ajaran tersebut tidak hanya dijelaskan saja, masih perlu menuntun anak untuk mengoperasikannya dengan nyata; lalu juga bukan mengoperasikan sekali atau dua kali, harus memintanya berlatih berulang-ulang, ia pun akan bisa karena biasa. Kebetulan suatu pagi, anak-anak semuanya sudah menguasainya, juga pengaturan yang luar biasa, saat makan siang kedatangan seorang tante. Alhasil sebelum dia masuk ke dalam ruangan kelas, semua anak yang tadinya sedang makan, seluruhnya berhenti, meletakkan mangkuk dan sumpitnya, untuk apa? Berlomba-lomba untuk menerima tamu. Jadi sebenarnya saat ia mampu mempelajari sesuatu untuk diterapkan, ia akan belajar dengan sukacita. Tante tersebut berjalan sampai depan pintu, enam anak membentuk satu baris, memberi salam bungkuk pada waktu bersamaan seraya berkata: Selamat datang! Tante tersebut tidak berani masuk, ia berkata: Saya jadi tersanjung! Tidak pernah disambut dengan etiket yang begitu meriah. Lalu dia berkata lagi: Andaikan anak-anak generasi berikut semuanya begitu, kita pun akan sangat lega.
Setelah itu, saat tamu ingin masuk, kita mengajar mereka untuk menempatkan sandal. Bagaimana menempatkan sandal? Harus ditempatkan di mana tamu sekali masuk ke dalam langsung bisa memakainya. Jadi teman-teman sekalian, setiap tindakan etiket, sebenarnya adalah menempatkan diri untuk berpikir demi orang lain, rasa belas kasihnya juga sedang diterapkan pada detail-detail kecil dalam kehidupan. Oleh karena itu, sandal juga harus ditaruh demikian agar orang dapat langsung memakainya. Tante masuk ke dalam, mereka pun berkata: Tante, silakan duduk, saya pergi ambilkan segelas air. Lalu mempersilakan tante untuk duduk dahulu, kemudian berkata: Tante silakan minum teh, saya pergi panggil ibu saya kemari. Ini adalah etiket penerimaan tamu, harus dipelajari di dalam keluarga.
Selanjutnya, saat di sekolah, kami melihat guru kelas sebelah masuk ke dalam kelas kami, anak-anak setelah melihatnya, dia akan bagaimana? Dia juga mungkin berdiri di tempat lalu mengeluarkan suara nyaringnya: Guru, guru kelas sebelah mencarimu. Hal ini tidak sesuai dengan sikap yang sopan. Jadi ini juga harus diajarkan kepada siswa, mengajarkan mereka harus terlebih dahulu: Guru, Anda tunggu sebentar, saya pergi panggilkan guru kami kemari. Setelah berkata kepada guru, barulah membawa guru kemari, yakni harus melaksanakan pekerjaan dari awal hingga akhir dengan baik. Sebetulnya ketika ia sedang menerapkan etiket, kesabaran dan kekaleman seorang anak pun dalam proses penerapan etiket tersebut, terus-menerus tumbuh dan berkembang.
Mari kita lihat, di dalam suatu perusahaan, andaikan ada orang yang datang mencari temannya ataupun mencari atasan kita, pada umumnya orang saat menghadapi situasi ini akan bagaimana? Andaikata mencari manajer, manajer mungkin sedang rapat, lalu berkata: Ingin cari manajer, beliau di dalam. Begitu baik tidak? Kebetulan tamu tersebut berjalan masuk, alhasil di dalam sedang rapat, sekali pintunya dibuka, maka akan timbul keadaan apa? Sangat canggung. Rapat setengah jalan, tidak tahu harus meneruskan rapat, atau harus menerima tamu? Hal ini sangat tidak sopan. Andai atasan tersebut sekali usut, siapa yang menerima tamu? Dan andai keadaan tersebut terjadi berulang-ulang kali, mungkin saja pekerjaan itu pun sulit dipertahankan, karena menyukseskan tidak mampu maka mengagalkan pun lebih dari cukup. Menghadapi keadaan tersebut, seharusnya terlebih dahulu meminta tamu "Silakan duduk", tuangkan secangkir minuman untuknya, "Coba saya lihat terlebih dahulu apakah manajer sedang sibuk, Anda tunggu sebentar". Setelah sampai, sekali lihat sedang rapat, maka meminta arahan, mengatakan mungkin sepuluh menit atau dua puluh menit lagi, baru datang untuk berbicara dengannya, supaya hati sang tamu juga ada persiapan. Oleh karena itu, selalu sesuai dengan etiket, pun selalu membuat orang lain merasa sangat nyaman.
Etiket penerimaan tersebut, bukan hanya di rumah, di sekolah, di dalam perusahaan, bahkan di instansi pemerintah. Dan tamu yang diterima oleh instansi pemerintah itu siapa? Kemungkinan besar adalah orang penting dari setiap negara, ataupun rakyat dari negara mereka. Andaikan pegawai negeri sipil instansi pemerintah semuanya tidak sesuai dengan etiket, maka mungkin akan membuat malu sampai ke luar negeri, dan juga akan membuat rakyatnya sendiri kehilangan keyakinan terhadapnya. Oleh karena itu, tata krama benar-benar sangat penting, barulah Konfusius mengatakan "tidak belajar etiket, tidak mampu bertegak", sangat sulit menegakkan kaki dengan baik di masyarakat dan organisasi. Oleh karena itu, ayat ini pun dapat kita artikan sebagai etiket penerimaan. Ayat berikutnya, mari kita bacakan bersama:
Chēng Zūn Zhǎng. Wù Hū Míng. Duì Zūn Zhǎng. Wù Xiàn Néng. Lù Yù Zhǎng. Jí Qū Yī. Zhǎng Wú Yán. Tuì Gōng Lì. Qí Xià Mǎ. Chéng Xià Jū. Guò Yóu Dài. Bǎi Bù Yú
[Terjemahan harfiah:
"Sapa yang tua. Jangan sebut nama. Terhadap yang tua. Jangan unjuk kemampuan. Jalan temu tetua. Lekas hampiri salam. Tetua tiada pesan. Mundur dengan hormat. Turun dari kuda. Turun dari kereta. Sabar tunggu lewat. Hingga ratus langkah."
Terjemahan:
"Menyapa yang lebih tua. Jangan menyebut namanya. Berhadapan dengan yang tua. Jangan mengunjuk kemampuan. Di jalan bertemu tetua. Lekas hampiri beri salam. Tetua tidak berpesan. Mundur dengan hormat. Turun dari kuda. Turun dari kereta. Sabar menunggunya lewat. Hingga ratusan langkah."]
Sapa yang tua, jangan sebut nama, menyapa yang lebih tua, jangan memanggil namanya secara langsung, itu sebenarnya juga sebuah rasa hormat. Saya ingat saat menyapa dua kakak saya di dalam rumah, pun memanggil kak sulung, kak dua. Tiba-tiba ada teman ataupun teman sekelas bertanya kepada saya: Kakakmu namanya siapa? Ketika kami mengucapkan keluar nama kakak, seluruh tubuh tidak nyaman, kayanya sedikit tidak hormat. Jadi jangan meremehkan sebutan ini, lama-kelamaan, semakin panggil semakin dekat, panggil "kak", "bang", benar-benar dalam sebutan tersebut, antarmanusia akan semakin lama semakin intim. Tetapi andaikan menyapanya dengan nama, misalnya suami istri saat saling menyapa, pun memanggil nama lengkap dengan tiga aksara, lama-kelamaan, suasana akan semakin lama semakin dingin, bahkan akan semakin lama semakin berkobar. Jadi sebutan ini, kita juga seharusnya menyapa tetua dengan sebutan "paman","pakde", dan "tante". Masuk ke masyarakat, kita juga harus misalnya "Manajer Chen", "Direktur Chen", menyapanya demikian. Orang setelah mendengarkannya merasa nyaman, juga tidak sampai menyinggung perasaan orang.
Anak-anak zaman sekarang, di rumahnya dan di sekolah juga harus menerapkan sikap tersebut. Rekan kerja, misalnya kami sebagai guru, antara rekan kerja, di hadapan anak-anak jangan langsung memanggil "Guru Lixu (nama)", ataupun "Guru bla bla bla", jangan sebut begitu, karena itu pun juga namanya menyebut nama guru. Bagaimana cara menyebut yang seharusnya? "Guru Chen (marga)", "Guru Cai (marga)", itu juga merupakan peragaan kepada anak-anak. Meskipun antara kita orang dewasa dalam sebutan boleh lebih akrab, namun anak-anak masih harus belajar sikap rendah hati dan hormat sejak kecil, kita sebagai guru juga dapat memperhatikan bagian-bagian mendetail tersebut. Ini adalah "menyapa yang lebih tua, jangan menyebut namanya".
Karena budaya barat masuk timur, orang barat menyebut orang tua mereka pun langsung memanggil namanya, sangat banyak orang pun berpikir bahwa bulan di dunia barat jauh lebih bulat. Kami ada seorang teman, ia setelah melihat beberapa buku pun berkata bahwa boleh langsung memanggil nama, lalu pun menyuruh putrinya memanggil langsung nama sang ayah dan ibu. Setelah memanggil beberapa tahun, kebetulan saya pergi ke Haikou untuk mengajarDi Zi Gui, dia baru tahu itu salah! Putrinya sudah duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi saat berbicara dengannya, saat itu pun susah untuk mengajarnya. Oleh karena itu, sebutan adalah untuk memupuk sikap menghormati senioritas, etiket ini juga tidak boleh ditiadakan.
Ayat berikutnyaterhadap yang tua, jangan unjuk kemampuan, kami pagi hari ini juga telah membahas, anak saat mengembangkan bakatnya, kami harus membimbingnya, apa tujuan dari berbakat? Belajar begitu banyak bakat, tujuan pokoknya untuk apa? Teman-teman sekalian, Anda membawa anak-anak untuk belajar begitu banyak kepiawaian, untuk apa? Ini sangat penting, tujuan Anda pun akan membimbing anak untuk berjalan menuju ke arah tersebut.
Saya ada seorang siswa, dia mengikuti kursus sampai empat mata pelajaran, siswa kelas enam SD. Saya pun berpikir, asalkan dia di kelas mendengarkan dengan serius, pasti tidak perlu kursus begitu banyak, saya pun mencarinya kemari untuk berkomunikasi dengannya. Saya bilang: Kamu kursus empat mata pelajaran terlalu banyak, bagaimana kalau kamu kursus dua mata pelajaran saja. Alhasil gadis kecil itu berkata: Guru, tidak bisa, orang di gang rumah kami semuanya kursus empat mata pelajaran. Anda lihat tujuan anak-anak pergi kursus untuk apa? Yang lainnya semua begitu, saya tidak boleh kalah dengan orang. Hal yang sama, sekarang belajar begitu banyak kemahiran, apa tujuannya? Orang lain bisa piano, saya tidak boleh tak bisa; orang lain bisa menari, saya tidak boleh tak bisa. Andaikan hanya ingin membandingkan dengan orang lain, jaga gengsi, maka setelah anak mempelajari kemahiran tersebut, bukan hanya tidak ada manfaat yang besar, karena pembelajarannya terlalu rumit maka belajarnya tidak mantap; bukan hanya tidak bermanfaat, bahkan mungkin bisa tercemar oleh tradisi kebatilan tersebut, setelah belajar, sering ingin pergi memamerkannya kepada orang lain. Oleh karena itu, sikap kita sebagai orang tua amat sangat penting.
Pagi tadi kami juga ada mengatakan, andaikan ia belajar seni, kita seharusnya membimbing dia untuk mempunyai tekad. Bakat dari mempelajari seni tersebut harus menciptakan berkah bagi khalayak ramai, bak pepatah masyarakat dan negara itu, seharusnya adalah kumpulan yang saling membantu, setiap orang mengabdikan kemampuan dan bakatnya demi kepentingan umum. Jadi kami akan membimbingnya, kamu lihat ada begitu banyak, misalnya lagu yang dikarang oleh Bapak Li Shutong, sampai sekarang masih terus-menerus membentuk perangai manusia. Kamu ingin belajar musik, juga harus seperti Bapak Li Shutong, harus menetapkan tekad yang tinggi, harus bisa "mengalihkan adat dan tradisi, tiada yang sebaik musik", menggunakan musik untuk memperbaiki iklim sosial. Ketika kita membimbingnya demikian, ia pun memiliki tekad, saya yakin pembelajarannya pasti akan berbeda dengan orang lain. Ketika ia hanya untuk pamer, anak itu saat mempelajari bidang bakat tersebut, pasti akan mengalami rintangan dan tidak dapat menembusnya. Karena saat dia suka banding-membanding dengan orang lain, dia pun khawatir perolehan dan takut kehilangan, emosional akan sangat parah, di kemudian hari pun sulit untuk meningkat. Namun saat dia mempunyai tekad, ia akan terus-menerus menyemangati diri untuk maju, jadi tekadnya telah menentukan seluruh kunci keberhasilan.
Kami diBidal Mengurus Rumah Tangga Zhu Ziada menyebutkan, seharusnya menetapkan tekad belajar pada apa? Kudus dan bijak. Orang sekarang menetapkan tekad belajarnya pada apa? Uang. Jadi Anda lihat orang-orang yang belajar pun belajar dengan penuh penderitaan, belajar sampai emosi setengah mati, karena hasil ujiannya tidak bagus. Target tersebut sudah keliru. Hal yang sama, sangat banyak orang yang belajar seni, menetapkan tekad seninya pada apa? Jadi ikhtiarnya tidak mungkin terus meningkat. Kita harus menangkap dasarnya. Apakah tujuan belajar dari Fan Zhongyan? Ingin menemukan dan menguasai suatu peluang untuk dapat melayani rakyat. Jadi suasana hatinya tersebut dibandingkan dengan orang yang belajar hanya demi ketenaran, efek belajarnya sama atau tidak? Jelas tidak sama. Pendidikan harus "waswas pada permulaan", waswas pada saat awal, kita membimbing anak untuk belajar bakat dan keterampilan, juga harus memiliki konsep yang tepat.
Oleh karena itu, tidak boleh "mengunjuk kemampuan" itu mengembangkan sikap kerendahan hatinya. DalamKitab Perubahanmenyebutkan "heksagram kerendahhatian, enam garisnya mujur semua", di dalamKitab Perubahanjuga menyebutkan "sombong mengundang musibah, rendah hati mendapat manfaat". Enam puluh empat heksagram di dalamKitab Perubahan, masing-masing heksagram mempunyai campuran mujur dan malang, hanya satu heksagram yang keenam susunan garis semuanya mujur, hanya "Heksagram Qiān" saja. Jadi seorang anak yang mampu berendah hati, dia itu bisa ke manapun tiada yang tidak lancar. Di dalamEmpat Nasihat Liao Fanyang berisi empat bab filsafat hidup yang sangat penting tersebut, pada bab keempatnya mendeskripsikan manfaat dari rendah hati. Bapak Yuan Liaofan saat itu mengikuti ujian, dan juga pernah mengikuti beberapa kali ujian doktor. Setiap kali sebelum ujian dimulai, beliau mencermati teman-teman yang mengikuti ujian, beliau akan menemukan beberapa dari mereka sangat rendah hati, cahaya rendah hati berpancaran, sangat hormat terhadap orang, sangat bersahaja. Meskipun usia teman-teman tersebut sangat muda, tetapi beliau pun merasa mereka pasti akan lulus ujian, alhasil ternyata benar hasil ujiannya, orang yang rendah hati semuanya lulus ujian.
Oleh karena itu, kita dari kecil juga harus selalu memperingatkan anak untuk senantiasa berendah hati. Karena biarpun setinggi apapun bakat kita sekarang, apakah bakat tersebut terbentuk berkat diri sendiri? Bukan! Yakni dalam proses perkembangan, sangat banyak sekali orang yang memberikan kita perawatan dan tuntunan. Jadi semakin berbakat, kita seharusnya lebih bisa mensyukuri sumbangsih begitu banyak orang kepada kita, mempunyai suasana hati tersebut maka secara alami tidak akan arogan. Jadi "berhadapan dengan yang tua, jangan mengunjuk kemampuan".
Ayat berikutnya,jalan temu tetua, lekas hampiri salam, tetua tiada pesan, mundur dengan hormat. Bertemu tetua di jalan, kita pun harus berinisiatif ke sana untuk menyapanya. Kami sendiri selaku tenaga pendidik, saya pun pernah mendengar ibuku bilang, katanya: Beberapa siswa (siswa yang pernah diajar) nampak beliau di jalan, segera mengelak, tidak berjalan kemari. Teman-teman sekalian, alasan apa yang menyebabkan keadaan tersebut? Tentu saja ada banyak sekali keadaan, misalnya kita sebagai guru tidak cukup dekat dengan anak-anak, sehingga mereka semuanya lari. Juga mungkin saja anak tersebut dari kecil tidak terbiasa memberi hormat kepada orang dewasa, dan saat ia tidak berinisiatif untuk memberi hormat kepada orang dewasa, maka tidak akan mengerti tata cara manusia dan dunia. Jadi kita harus memberitahu anak, bertemu tetua niscaya harus menghampirinya untuk menyapa dengan salam bungkuk, ini adalah etiket saat bertemu.
Teman-teman sekalian, salam bungkuk gampang tidak? Sekarang minta Anda memberi salam bungkuk sembilan puluh derajat, mungkin sangat banyak orang akan tidak terbiasa. Di Shenzhen ada sebuah TK, melatih anak-anak memberi salam bungkuk selama hampir satu atau dua bulan pun masih terus berbuat demikian, ingin supaya gerakan ini terinternalisasi menjadi rasa hormatnya. Ada seorang anak, ibunya ada tiga kakak beradik, ayahnya empat kakak beradik, alhasil hanya ada satu anak kecil; yakni kakak beradik dari ibunya tidak mempunyai anak, kakak ayahnya juga tidak punya anak, ia adalah satu-satunya. Begitu banyak orang yang merawatnya, jadi teman-teman sekalian, anak tersebut gampang diajar tidak? Sulit diajar! Kok kalian tahu? Masih ada kakek, nenek, opa, oma, begitu banyak orang dewasa yang memanjakan. Suatu hari kakeknya mengatakan di hadapan para tetua, katanya: Melihat cucu ini bagaikan melihat saya, apa yang dikatakan anak ini bagaikan yang dikatakan saya, siapa yang memukulnya berarti memukul saya. Keadaan semacam berlanjut, anak tersebut akan bagaimana? Mungkin akan merasa tak tertandingkan. Oleh karena itu, andaikan tetua tidak tahu bagaimana untuk mengajar anak, benar-benar ialah sayang yang mampu mencelakai. Jadi mari kita lihat, anak sekarang sulit diajar, apa yang menjadi penyebabnya? Dimanjakan.
Orang tuanya melihat keadaan tersebut, kebetulan juga ada kesempatan untuk mulai belajarDi Zi Gui, merasa keadaan itu tidak pantas, harus membawa anaknya pulang. Suatu kali saat anak tersebut makan, hidangan di atas meja sedikit sekali, dia langsung menggunakan kakinya untuk bertumpu di meja, mendorong ke belakang dan berkata: Hidangannya terlalu sedikit, saya tidak mau makan. Begitu betul tidak? Tidak betul! Tetapi sangat normal, karena mereka begitu memanjakannya, sudah memanjakannya menjadi kaisar cilik. Kaisar saat makan perlu berapa hidangan? Seratus! Kok Anda begitu jelas. Jadi hidangan terlalu sedikit, ia pun tidak mau makan. Ibunya setelah membawanya pulang, suatu pagi, memasak bubur yang sangat bergizi untuknya, alhasil ia berkata kepada ibunya: Saya hanya makan mi, tidak makan bubur. Ibunya juga tidak emosi dengannya, karena "es membeku tiga kaki, bukan karena kedinginan satu hari", kebiasaan buruk yang telah terpelihara, sekarang harus mempunyai kesabaran untuk memperbaikinya. Jadi dia berkata: Kamu tidak mau makan, baik, lupakan saja. Alhasil pada pukul sembilan, ia berkata lagi kepada ibunya bahwa dia lapar, ibunya membawa keluar lagi semangkuk bubur tadi, dia masih tidak mau makan. Sekarang banyak sekali anak yang sangat keras kepala, harus bagaimana? Jangan berkeras dengannya, harus terus mengikisnya. Dia tidak mau makan maka disimpan lagi. Jam setengah sepuluh ia sudah lapar setengah mati, bubur itu dihidangkan, dia pun melahap dengan nikmat, setelah makan ia berkata: Lumayan lezat juga ya. Betul!  Dia tidak pernah tahu penderitaan fana.
Lalu menyekolahkannya ke TK, sang ayah dan ibu juga sangat berusaha untuk berkoordinasi dengan guru, pun mengajar anaknya memberi salam bungkuk. Ibunya membawanya pergi,  saat bertemu guru, harus memberi salam bungkuk kepada guru, anak itu pun berdiri diam tidak bergerak, seorang anak laki-laki. Lalu ibunya mulai memberi salam bungkuk kepada guru sambil berkata: Kamu lakukan seperti mama. Sang ibu memberi salam bungkuk hampir sepuluh kali, anak tersebut teguh tak tergoyahkan. Tetapi karena harus pergi ke kantor, ibunya pun terburu-buru harus pergi, setelah sampai di gerbang komunitas maka merasa ada yang tidak benar, pendidikan harus waswas pada permulaannya, pada permulaan tidak mengajarnya sampai bisa, di kemudian hari ingin mengajarnya akan semakin lama semakin sulit. Maka dia membuat sebuah panggilan telepon kepada suaminya, suaminya segera bergegas kemari, suami istri sama-sama berjalan ke hadapan anak, berkata: Sekarang ayah mengajarkanmu memberi salam bungkuk, memberi salam bungkuk kepada guru. Lalu ayahnya pun terus-menerus memberi salam bungkuk, juga tidak tahu berapa kali memberi salam bungkuk, anak tersebut yang berdiri di sana pun mulai menangis. Ketulusan hati sang ayah, telah melelehkan hatinya yang sangat keras tersebut, saat itu juga anak tersebut pun memberi salam bungkuk kepada guru. Dan saat tubuhnya sudi dibungkukkan, di kemudian hari pun sudah tidak sulit. Oleh karena itu, untuk mengajari seorang anak menjadi baik, kerja sama antara orang tua dan guru benar-benar sangatlah penting.
Sang ibu tersebut juga sangat punya kepekaan terhadap pendidikan, karena anak tersebut dimanjakan oleh begitu banyak orang, terhadap orang tidak ada rasa hormat, jadi dia juga selalu menjinakkan arogansi anak tersebut, berharap dia punya rasa hormat. Setiap kali saat meninggalkan komunitas mereka, karena di komunitas tersebut ada satuan pengamanan, ia pun menyuruh anaknya: Mari, beri salam dengan paman, ucapkan selamat pagi. Setiap kali anak tersebut pun tidak berkenan. Suatu kali ibunya pun berdiri di sebelah satpam tersebut, dan berkata kepada anaknya: Hari ini kamu tidak memberi salam bungkuk, maka kita tidak naik ke atas. Anaknya bersikeras tidak memberi salam bungkuk, dia pun mengatakan kepada anaknya, katanya: Hingga pemimpin negara, serta semua orang yang bekerja, setiap orang memiliki kontribusi kepada masyarakat, semuanya layak kami hormati; dan usia kalian begitu muda, masih perlu dirawat oleh orang tua, dan juga perlu dilayani oleh banyak orang, jadi kamu harus berinisiatif untuk berterima kasih dan memberi salam kepada paman. Ia pun mendidik anak tersebut di depan satuan pengamanan, saat anak mampu mendengar dan menerima hakikat tersebut, dan dapat memberi salam bungkuk kepada tetua, saya yakin sikap hormat yang terpelihara tersebut, akan punya manfaat tidak terbatas baginya seumur hidup.
Etiket saat bertemu, kita dapat menggunakan salam bungkuk. Lalu antara orang dewasa, sekarang umumnya menggunakan cara apa? Jabat tangan. Sebenarnya jabat tangan adalah etiket barat, umumnya di Tiongkok pun memberi salam bungkuk, tentu saja bertemu tetua kita harus "lekas hampiri beri salam", harus berinisiatif untuk memberi salam bungkuk. Anda tidak boleh dari jauh sudah melihat kakek, masih berjalan perlahan-lahan dan santai, itu pun tidak sopan. Terhadap yang lebih tua, kita boleh memberi salam bungkuk, kalau yang segenerasi, maka membungkuk dengan sangat alami. Kita menonton drama Korea "Sangdo", ketika Anda melihat mereka saat bertemu satu sama lain memberikan salam bungkuk, rasanya sangat nyaman. Bahkan nampak orang yang sangat tidak menyenangkan, mereka juga akan mengendalikan sedikit dan memberi hormat kepada orang lain.
Karena saat ini banyak sekali acara yang menggunakan jabat tangan untuk menyapa, lalu teman-teman sekalian, jabat tangan seharusnya memperhatikan hal-hal apa? Misalnya, siapa yang mengulurkan tangan terlebih dahulu lebih sesuai dengan etiket? Kita harus mempertimbangkan masalah "urutan", ini adalah jabat tangan. Kalau tetua dengan pemuda maka siapa yang mengulurkan tangan dahulu? Tetua mengulurkan tangan dahulu, barulah pemuda mengulurkan tangan, jika tidak kita pun memberi salam bungkuk juga boleh. Atasan dengan bawahan seharusnya siapa yang mengulurkan tangan terlebih dahulu? Atasan mengulurkan tangan dahulu. Andaikata Anda pergi ke perusahaan orang lain, nampak direktur utamanya, direktur utamanya masih belum mengulurkan tangan, Anda sudah mengulurkan: Halo! Halo! Orang lain tidak jelas siapa Anda, tangannya pun tidak diulurkan, bukankah sangat canggung? Oleh karena itu, saat menghadap ketua dari orang lain, juga menunggu atasan menjulurkan tangan dahulu, kita baru mengulurkan tangan. Urutan ini tidak boleh dibuat terbalik, jika tidak maka mungkin akan timbul keadaan yang canggung. Kalau pria dengan wanita maka siapa yang mengulurkan tangan dahulu? Wanita. Kalian semua sangat berpengalaman, betul, wanita mengulurkan tangan dahulu; jikalau sang pria mengulurkan tangan, orang lain tidak ingin berjabat dengan Anda, Anda juga sangat canggung. Ini adalah urutan.
Yang kedua, kita sewaktu berjabat tangan harus memperhatikan masalah "sikap". Berjabat tangan harus memperhatikan gerakan dan sikap apa? Marilah kita langsung peragakan, adakah teman yang mengajukan diri dengan berani, ayo ke depan untuk berjabat tangan! Teman yang  ini, ya Anda. Dalam hidup akan ada banyak bola perubahan, ketika Anda menerimanya, Anda harus sangat alamiah. Kita bertemu teman dan ingin berjabat tangan maka pertama kita harus memperhatikan pandangan mata, mata harus melihat pihak lain. Misalnya saya berjabat tangan dengannya, "Halo! Halo!". Pihak lain akan merasa bagaimana? Mengapa begitu tidak tulus! Keadaan ini benar adanya, karena dalam perjamuan, bertemu sangat banyak teman, saat berjabat tangan dengannya, mata melihat ke orang lain, berjabat ke sini, "Halo, halo", pikiran entah ke mana, sangat tidak tulus. Jadi mata harus menatap langsung pihak lain. Mari peragakan lagi: Halo!
Selain pandangan mata, juga harus memperhatikan tangan, tenaganya jangan terlalu kuat, jika tidak maka akan menyakiti tangan orang lain. Misalnya, saya pun mengenggam tangannya sangat kuat, "Halo, halo". Kemampuan menahannya lumayan hebat. Jadi "kekuatan" juga harus diperhatikan. Selanjutnya, posisi memegang juga harus tepat, misalnya banyak sekali orang saat mengenggam tidak cukup tenaga, seperti begini, "Halo, halo". Pernah melihat yang seperti ini? Semacam penyakit pekerjaan, hanya menyentuh tangan orang lain sedikit saja, ini juga tidak tulus. Seharusnya mengenggam kira-kira di posisi ini, begini sangat bagus. Selanjutnya, harus memperhatikan "waktu" mengenggam tidak boleh terlalu lama, jikalau Anda begini, halo, ia juga tidak tahu kapan Anda hendak melepaskannya. Terutama kita pria saat bertemu wanita cantik, poin ini lebih tidak boleh dilanggar. Ketika kita selalu dapat memperhatikan, maka orang lain berjabat tangan dengan kita akan sangat sukacita. Baik, terima kasih, beri tepuk tangan. Ini adalah saat berjabat tangan, juga harus selalu membuat orang lain merasa sangat nyaman.
Setelah berjabat tangan harus perkenalan, harus saling memperkenalkan. Urutan perkenalan ini sangat kebetulan, tepat berlawanan dengan urutan jabat tangan. Misalnya, Tetua mengulurkan tangan dahulu, baru pemuda yang mengulurkan tangan, maka saat perkenalan, memperkenalkan dahulu pemuda kepada tetua, memperkenalkan bawahan kepada atasan, memperkenalkan pria kepada wanita, urutannya kebetulan terbalik. Sebenarnya meskipun itu adalah sebuah etiket, tetapi coba kita bayangkan hari ini, saat Anda membawa temanmu untuk berkenalan dengan ayahmu, apakah Anda akan menuntun tangan ayahmu dan berkata: Ayah, mari, kita pergi kenalan dengan temanku. Begitu rasanya sangat aneh! Sebenarnya etiket itu adalah urutan yang kodrati. Mana ada yang membawa tetua untuk berkenalan dengan orang yang mungkin tinggi badannya masih separuh dari dirinya? Bukankah itu sangat aneh! Jadi etiket itu, di dalamCatatan RitusCatatan Musikada menyebutkan "etiket, urutan dari langit dan bumi", urutan serta aturan dari langit dan bumi yang sangat alamiah. Ini adalah keadaan yang perlu diperhatikan saat perkenalan.
Dalam proses perkenalan, kemungkinan orang lain juga akan menyerahkan kartu namanya kepadamu, dalam menyerahkan dan menerima kartu nama juga harus diperhatikan. Bagaimana menyerahkan kartu nama? Anda jangan mengeluarkan dari tempat kartu nama, Anda satu, Anda satu, demikian membuat orang merasa bagaimana? Kurang hormat terhadap orang lain. Ketika seseorang tidak menghormati orang lain, sebenarnya juga telah tidak hormat terhadap dirinya, jadi perkataan awam berbunyi "membuat malu dirinya sendiri", Anda tidak menghormati orang, pada kenyataannya sudah tidak menghormati sendiri. Kartu nama tersebut melambangkan Anda, mana boleh Anda menyerahkannya begitu sembrono! Jadi setelah mengambil satu kartu, lalu diserahkan dengan dua tangan; dan waktu menyerahkan seharusnya sisi mana yang menghadap ke teman? Sisi yang mana saat ia menerima bisa langsung melihatnya. Andaikan Anda menyerahkan terbalik, ia masih harus membaliknya untuk melihat. Detail ini juga selalu mencerminkan Anda selalu berpikir demi orang lain dalam segala aspek.
Saat Anda menerima kartu, niscaya harus dilihat terlebih dahulu. "Menyapa yang lebih tua, jangan menyebut namanya", tidak hanya terhadap yang lebih tua demikian, pergaulan antarmanusia pada umumnya, andaikan ia adalah manajer umum atau kepala seksi, kita pun menghormatinya dengan sebutan tersebut, dia juga akan merasa sangat sukacita. Oleh karena itu, Anda harus melihat marganya dahulu dengan baik, andaikata Kepala Seksi Chen, "Kepala Seksi Chen, apa kabar". Anda jangan mengambil kemari lalu juga tidak jelas apa marganya, tiba-tiba saat duduk dan ingin berbincang, baru terpikir bahwa tadi kelupaan, lalu mengeluarkannya kembali untuk dilihat, maka akan lumayan canggung.
Setelah mengambil kartu nama seharusnya diletakkan di mana? Anda mungkin boleh mengambil dompet dan memasukkannya. Banyak sekali orang yang langsung menaruhnya di atas meja, kebetulan saat sedang makan, sup tersebut tetes ke sana sini, mungkin pihak lain sekali lihat: Kartu nama saya! Apakah dia akan berbisnis dengan Anda? Apakah akan bekerja sama dengan Anda? Anda terhadap kartu nama saya begitu tidak hormat, mungkin memberinya kesan yang sangat tidak baik. Ketika kita selalu punya etiket, maka akan meninggalkan kesan yang sangat baik kepada orang lain, pun akan terbangun sebuah jembatan persahabatan dengan orang lain. Jadi etiket saat bertemu, juga tidak boleh kita abaikan Sejak awal tadi, kita telah membahas etiket penerimaan, kini kita membahas etiket saat bertemu.
"Di jalan bertemu tetua, lekas hampiri beri salam, tetua tidak berpesan, mundur dengan hormat", misalnya setelah kita selesai menyapa tetua, andaikan tetua tidak berpesan apa-apa, tunggu beliau pergi, kita pun baru boleh jalan, disebut "tetua tidak berpesan, mundur dengan hormat". Saat saya kuliah di universitas, sangat sedikit peluang untuk pulang ke rumah, dalam satu semester pun pulang tidak seberapa kali. Ketika kami masuk ke rumah, melihat ayah dan ibu, ini namanya "bertemu tetua", kami memanggil: Ayah, Ibu. Banyak sekali mahasiswa yang kembali ke rumah, dengan ibunya pun bagaikan bercelup kecap, setelah selesai mencelup, lebih sibuk dari biasanya di kampus, sibuk untuk apa? Mencari segerombolan teman. Apakah ada keadaan seperti itu? Anda lihat ayah dan ibu dengan tidak mudah menunggu Anda untuk kembali, mungkin ada banyak sekali yang ingin dibicarakan dengan Anda, kita pun mengabaikan perasaan orang tua dan tetua. Hal tersebut juga pernah saya buat, maka harus minta ampun dan bertobat.
Seharusnya setelah menyapa kedua orang tua, koper-koper diletakkan, segera datang kemari. Karena selama beberapa waktu tidak berbincang dengan Anda, tidak jelas dengan keadaan Anda, pasti akan ada banyak sekali kekhawatiran. Saat itu Anda pun duduk, baik menemani ibumu membaca buku, maupun menemaninya minum secangkir teh, waktu tersebut niscaya tidak boleh dihemat. Sangat banyak orang pun mengatakan: Biasanya tidak ada yang ingin dikatakan ibuku kepadaku. Karena Anda selesai menyapa pun langsung pergi, kata-katanya pun belum terendap cukup hingga terpicu keluar. Sebenarnya saat Anda sangat berniat, menemani orang tua dengan tenang, menemani orang tua untuk duduk sebentar, inspirasinya pun datang, secara alami ada banyak sekali hal yang dapat dikomunikasikan dengan baik kepada Anda. Jadi kita saat berbincang dengan tetua juga harus bersabar, menemani mereka untuk duduk sebentar, benar-benar sudah duduk sesaat, orang tua memang tidak ada hal yang dibicarakan, kita baru "tetua tidak berpesan, mundur dengan hormat".
Saya kembali dari Haikou, sore hari tersebut saya terlebih dahulu pergi menjenguk kakek saya. Setelah menjenguk kakek, malam hari pulang kembali, juga telah empat bulan lebih tidak berbincang bersama orang tua, jadi saya segera meletakkan semuanya, berbincang dahulu dengan ayah dan ibuku, sekali bincang pun bincang sampai dua hingga tiga jam. Dalam proses perbincangan tersebut, mengenai kehidupan dan keadaan kerja kami, pun dilaporkan secara mendetail kepada orang tua, supaya orang tua sangat lapang hati dengan apa yang kami laksanakan di sana. Jadi ayah saya, saya ingat pertama kali saya pulang kembali untuk melaporkan dengannya, beliau dalam proses mendengarkan, matanya ada tiga kali mengalirkan air mata. Karena beliau mendengarkan di tempat-tempat seperti Haikou dan Shenzhen, banyak sekali anak yang setelah belajar pun bersujud kepada orang tuanya saat kembali, air mata beliau setelah mendengarkannya pun tidak tertahankan. Lalu saat itu saya kembali ke Haikou untuk terus bekerja, pertama kali menelepon pulang, alhasil ayah saya pun berkata kepada saya: Kamu bekerja di sana, laksanakan dengan baik, tidak perlu khawatir hal-hal di rumah, hal-hal di rumah akan ayah urus dengan sangat baik. Ayah malah menenteramkan hati saya, berharap saya tidak usah sangsi.
Saya ingat saya juga menceritakan sebuah contoh kepadanya, yakni kami di Haikou ada seorang siswa, karena gurunya sangat serius mengajarkan merekaDi Zi Gui, jadi saat tahun baru ia pulang, ia pun ingin bersujud kepada orang tuanya, berterima kasih atas perawatan mereka selama setahun. Anak tersebut pun membuat dua cangkir teh, bersiap untuk keluar dari dalam ruangan, sebelum ia membawanya keluar, merasa jantungya berdebar-debar, sedikit tidak berani. Alhasil sebelum keluar, datanglah beberapa tamu, niatnya semakin urung, masih ada orang lain, menjadi semakin segan. Tetapi ia pun memberanikan diri, guru pun sudah mengajar, kita harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Jadi pun membuka pintu, berjalan langsung ke hadapan orang tuanya, anak tersebut pun tiba-tiba berlutut. Semua anggota keluarga tadinya masih sedang mengobrol, anak tersebut sekali berlutut, segenap sunyi dan senyap, tidak tahu ada kekuatan apa, semua orang sangat kompak pun menutup mulutnya. Kemudian anak tersebut mengatakan: Terima kasih orang tua atas asuhannya selama setahun ini, di awal dari tahun ini, saya mendoakan orang tua sehat dan panjang umur. Maka bersujud tiga kali di depan orang tua. Alhasil tetua di samping setelah melihatnya pun sangat terharu, jadi anak-anak juga dapat memengaruhi orang dewasa.
Anak tersebut setelah kembali ke sekolah, menulis sebuah artikel, ia mengatakan bahwa ia sangatlah tegang saat ingin berterima kasih kepada orang tua, tetapi sekali dia meletakkan lutut ke lantai, tiba-tiba merasa otaknya segenap jernih dan sadar. Jadi menapakkan langkah pertama itu lebih sulit, tetapi asalkan Anda melangkah maju dengan berani, pelaksanaan Anda akan semakin lama semakin baik.
Ayat berikutnya,turun dari kuda, turun dari kereta, sabar tunggu lewat, hingga ratus langkah, ini menggambarkan tentang alat transportasi pada zaman dahulu, duduk di atas kuda, duduk di atas kereta. Ketika kita duduk di atas kuda bertemu tetua, maka seharusnya segera turun dari kuda, karena Anda duduk di atas kuda, bertemu kakekmu, lalu Anda seperti ini: Kakek, apa kabar? Itu sangat tidak sopan, harus segera turun dari kuda. Ataupun duduk di atas kereta, juga seharusnya turun kereta dahulu untuk memberi salam. Dikembangkan lebih luas, mungkin kebetulan Anda sedang sibuk, andaikata Anda sedang bermain komputer, tetua datang kemari, seharusnya bagaimana terlebih dahulu? Harus meletakkan dahulu, memberi salam dahulu. Selalu tidak melupakan rasa hormat tersebut.
Tetapi andaikan, misalnya sekarang duduk di dalam mobil, mobil sedang berjalan dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba nampak paman sedang membawa mobil, saat itu harus bagaimana? Boleh tidak menurunkan jendela mobil, dengan suara keras: Paman! Ini pun akan ada pertimbangan dalam keamanan. Oleh karena itu, belajar etiket harus fleksibel, tidak boleh belajar terlalu kaku. Mari kita lanjutkan membaca ayat berikutnya:
Zhǎng Zhě Lì. Yòu Wù Zuò. Zhǎng Zhě Zuò. Mìng Nǎi Zuò. Zūn Zhǎng Qián. Shēng Yào Dī. Dī Bù Wén. Què Fēi Yí.  Jìn Bì Qū. Tuì Bì Chí. Wèn Qǐ Duì. Shì Wù Yí.
[Terjemahan harfiah:
"Yang tua berdiri. Pemuda jangan duduk. Yang tua duduk. Suruh baru duduk. Depan yang tua. Suara harus rendah. Rendah tidak dengar. Juga tidak pantas. Hampiri mesti lekas. Mundur mesti lambat. Saat ditanya hal. Pandang jangan alih."
Terjemahan:
"Yang tua berdiri. Yang muda jangan duduk, Yang tua duduk. Disuruh barulah duduk. Di depan yang tua. Suaranya harus rendah. Rendah tidak kedengaran. Juga tidak pantas. Saat menghampiri mesti lekas. Saat mengundur mesti pelan. Ketika ditanyakan hal. Pandangan jangan beralih."]
Ayat yang sebelumnya masih belum selesai dibahas, "turun dari kuda, turun dari kereta, sabar menunggunya lewat, hingga ratusan langkah". "Sabar menunggunya lewat, hingga ratusan langkah" ini, kita dapat menjabarkannya menjadi apa? Etiket pelepasan tamu, mengantar pulang tamu. "Sabar menunggunya lewat, hingga ratusan langkah", yakni mengantar tetua, mengantar tamu, harus menunggu setelah mereka pergi barulah kita jalan. Dalam menjelaskan hal satu ini, saya akan membiarkan siswa untuk mengantar pulang tamu secara nyata, maka satu orang selaku tuan rumah, satu orang selaku tamu, lalu berjalan ke depan pintu, berkata: Selamat tinggal. Tuan rumah segera "bam" menutup pintu. Siswa yang lain pun segenap tawa dan bahak. Kemudian membuka kembali pintunya, pun menanyakan tamu tersebut, andaikan orang lain mengantarmu demikian, bagaimana perasaanmu? Dia mengatakan: Kayanya sangat berharap saya cepat-cepat pulang, lain kali saya tidak mau datang lagi. Jadi mengantar tamu, juga harus membuat orang merasa bagai bertamu serasa pulang kembali, merasa sangat tersanjung.
Kami pun secara langsung melalui pembahasan, selain praktik secara nyata, juga melalui pembahasan. Anak-anak sekalian, menurut kamu bagaimana mengantar pulang tamu lebih sesuai? Sangat banyak anak pun mulai berpikir, mengantarnya ke depan lift, setelah lift turun ke bawah, kita baru kembali. Dengan begitu hati tamu akan merasa bagaimana? Sangat hangat. Andaikan tidak ada lift? Kita pun mengantarnya sampai depan tangga, barulah kembali.
Orang zaman dahulu saat mereka mengantar pulang tetua dan guru, benar-benar pun telah melaksanakan "sabar menunggunya lewat, hingga ratusan langkah", yaitu melihat gurunya sudah menikung, tidak dapat melihat lagi sosok guru, beliau baru pergi. Saya pergi ke Australia untuk belajar, setelah belajar harus dipergunakan, jadi malam hari setelah guru selesai mengajar, kami pun sama-sama mengantar guru kembali ke tempat istirahatnya. Saya pun akan terus berdiri di sana, menunggu sampai guru telah memasuki ruangan, kami barulah pergi. Teman yang lain sangat aneh, mengapa saya berdiri terus di sana? Saya pun berkata kepadanya, "sabar menunggunya lewat, hingga ratusan langkah". Sebenarnya saat kami melaksanakan tindakan tersebut, hati kami benar-benar sukacita tak tertandingi. Karena dalam proses mengantar guru tersebut, di dalam benak kami tiada hentinya muncul apa? Muncul tayangan kehidupan kami, andaikan tidak bertemu guru, kebijaksanaan tidak terbuka, kegelisahan tiada henti! Dikarenakan ajaran sedikit demi sedikit dari guru, kami barulah mampu dalam kehidupan ini dapat memiliki pertumbuhan yang begitu banyak. Oleh karena itu, dalam proses mengantar guru dengan pandangan, pun terkandung hati yang bersyukur, menghargai takdir guru dan siswa tersebut. Jadi orang zaman dahulu, interaksi antarmanusia sangat penuh integritas kasih, dikarenakan integritas kasih tersebut, barulah bisa menuliskan banyak sekali puisi yang sangat menyentuh. Sesi pelajaran kita ini sampai di sini dahulu, terima kasih semuanya.

Kamis, 30 Juli 2015

Episode 15

Dikutip dan diterjemahkan dari : "Seminar Hidup Bahagia – PenjelasanDi Zi GuiSecara Mendetail" oleh Guru Cai Lixu pada tanggal 18 Februari 2005 (Episode 15)

Teman-teman sekalian, kita lanjutkan tentang Zheng Jun dari Dinasti Han yang dibahas tadi, teman-teman sekalian, apa yang akan Anda lakukan? Bagaimana menasihati abang tersebut? Zheng Jun sendiri pergi untuk menjadi hamba orang lain, bekerja mulai dari pekerjaan yang paling hina, persis bekerja selama setahun, dengan kerja kerasnya memperoleh sejumlah uang, semuanya diberikan kepada abangnya. Kemudian berkata kepada abangnya: Barang-barang kita yang kurang, asalkan mengandalkan kerja keras kita, kemudian uang yang diperoleh akan dapat membelinya; tetapi reputasi seseorang asalkan telah hilang, seumur hidupnya bagaikan sudah tamat. Abangnya melihat beliau demi menasihatinya, bahkan menjadi pembantu rumah tangga orang lain, dan persis bekerja selama satu tahun, abangnya pun merasa sangat bersalah, maka mulai mengubah sikapnya, menjadi sangat jujur. Zheng Jun di kemudian hari berkembang sangat baik, bahkan sampai menjabat sebagai sekretaris kerajaan, jabatan yang setara dengan kanselir. Jadi memiliki rasa bakti dan persaudaraan, tentu saja mampu mendedikasikan kesetiaannya untuk negara. Beliau juga sering memberi nasihat kepada kaisar, kaisar sangat berterima kasih atas sokongannya, masih memberinya gelar "sekretaris kerajaan berstatus awam", dan mengizinkannya menikmati tunjangan, sampai beliau tua dan wafat pun menggunakan gaji sekretaris kerajaan untuk menunjanginya.
Jadi teman-teman sekalian, Anda lihat beliau pada awalnya demi menasihati abangnya, masih pergi menjadi hamba, apakah beliau rugi sangat banyak? Tidak! Bak pepatah "ladang berkah digarap hati", seseorang yang benar-benar membina diri dan menjalankan hakikat dengan budi pekerti, berkahnya pasti akan semakin terakumulasi semakin tebal. Bukan belum tiba, namun waktunya masih belum sampai, saat waktunya sampai, yang seharusnya merupakan berkahnya pasti tidak akan lari. Jadi orang Tiongkok bilang "berani rugi adalah berkah", pepatah tersebut sangatlah bermakna.
Yang dibahas tadi adalah tentang penasihatan antarsaudara, dalam lima hubungan manusia masih ada satu hubungan lagi, yaitu hubungan antarteman. Saya pernah pergi bersama dengan Paman Lu mengunjungi seorang temannya, saya juga merasa sangat aneh, sepertinya banyak sekali hal yang sangat seru pun dialami oleh saya. Kebetulan saya dan Paman Lu pergi mencari temannya ini, temannya ini telah berkontak dengannya selama tujuh belas tahun. Pada saat itu beliau masih membawa sangat banyak kitab klasik orang kudus dan bijak, ada yang ingin diberikan kepada anaknya untuk dibaca, ada yang ingin diberikan kepada temannya, ada juga yang untuk dibaca istri temannya. Dalam perjalanan tersebut Paman Lu pun berkata kepada saya, katanya: Saya kenal teman ini selama tujuh belas tahun, melihatnya bagai mentari di posisi klimaks, usahanya sangat besar, asetnya sangat banyak sekali, tetapi saat itu telah terlihat bahwa di kemudian hari dia kemungkinan besar tidak dapat mempertahankan kekayaannya. Karena saat seseorang mempunyai sangat banyak uang, sekali tercemar jiwa mubazir, seberapa banyak harta pun akan bagaimana? Akan ludes. Lalu bukan saja tercemar jiwa mubazir, kemungkinan besar kebiasaan buruk seperti arogan dan merasa tak tertandingkan pun akan terpelihara dalam proses tersebut. Saat seseorang itu arogan, maka dia akan ceroboh, jadi berkemungkinan besar membuat beberapa penilaian yang salah, uang sebanyak apapun akan habis. Lalu benar-benar kariernya juga terperosok, bahkan menanggung sedikit utang.
Ketika dia sedang menanggung utang, semua teman-temannya bagaimana? Semuanya menghilang. Sebenarnya malapetaka dan berkah saling bergantungan, saat semua kekayaan telah tiada, juga membuatnya mempelajari apa? Teman yang sejati bukan dapat dibeli dengan uang. Pas saat ia berada pada titik terendah, Paman Lu setiap minggu naik kendaraan berjam-jam, untuk datang membantunya menyelesaikan masalah finansial. Bukan saja tidak memungut biaya darinya, bahkan dengan modal sendiri bolak-balik untuk membantunya menangani sangat banyak masalah, dan dalam proses inilah, maka terbina kepercayaan dan jalinan yang semakin dalam. Jadi menunggu sampai tujuh belas tahun kemudian, takdirnya pun telah matang. Seseorang benar-benar ingin menjalani hidup dengan sempurna, niscaya bukan punya seberapa banyak uang, punya seberapa banyak kekuasaan, namun seberapa banyak kebijaksanaan barulah bisa. Saya pun kebetulan menumpangi kendaraan ini, juga merasakan Paman Lu dapat menggunakan tujuh belas tahun untuk menyokong seorang teman, jadi "jangan menyalahkan diri, jangan memasrahkan diri", saya harus menjadikannya sebagai teladan. Oleh karena itu, saat kami sedang menasihati orang lain dan menyokong orang lain, merasa diri kita sedikit tidak sabaran, tiba-tiba akan terpikir sebuah angka "tujuh belas tahun", lalu merasa sangat bersalah,  maka membangkitkan lagi integritas hakikat kita terhadap teman, terus membantu dan menyokongnya.
Selain itu kebetulan saat berada di Australia, saya juga melihat Paman Lu sangat terampil dalam menasihati teman di sekitarnya. Kebetulan kami yang pergi ke Australia ada delapan atau sembilan orang, tinggal bersama dalam satu kamar, delapan atau sembilan orang lelaki bakal terjadi hal apa? Delapan atau sembilan orang lelaki akan tampak permukaan meja ini ada banyak sampah (bukan saya yang buang), yakni kelihatan cenderung berantakan. Maka saya melihat Paman Lu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, beliau setiap hari bertemu dengan saya, setelah selesai mengobrol, kamar asrama, kamar mandi, ataupun wastafel ada beberapa kotoran, beliau pun sendiri secara diam-diam memungutnya, wastafel dapur juga dilap sampai satu tetes air pun tidak ada, semuanya dilap dengan bersih, kemudian beliau baru pergi tidur. Hari demi hari pun berbuat demikian, melakukannya sekitar empat atau lima hari, tiba-tiba ada seorang teman pun berdiri maju, ia berkata: Kalian masih begitu sembarang membuang, tidakkah kamu lihat setiap hari ada yang membantu kalian merapikannya dengan begitu bersih, apakah kalian tidak merasa keterlaluan? Semua orang pun merasa sangat bersalah, semuanya menundukkan kepala. Sejak saat itu menjadi bagaimana? Jauh lebih bersih! Jadi Paman Lu tidak dengan ajaran verbal melainkan dengan keteladanan, maka membuat semua orang waspada bahwa dirinya sendiri seharusnya menjaga kebersihan lingkungan tersebut. Jadi benar-benar di dalam dunia orang dewasa, yang paling penting kita sendiri masih terlebih dahulu harus membuat teladan yang baik, maka secara alami akan dapat memengaruhi orang lain.
Saya saat berusia sekitar dua puluh lima tahun mulai bersinggungan dengan ajaran orang kudus dan bijak, karena sebelumnya adalah doktrin akademik, doktrin akademik menanamkan apa pada benak kita? Persaingan. Melihat nilai orang lain sangat tinggi, sendiri pun merasa sangat merana, yakni berparadigma dan berjiwa kerdil, jadi kalian sudah tahu mengapa mata saya tidak besar. Tetapi setelah belajar ilmu orang kudus dan bijak, dalam hati sangat tersentuh. Saya ingat saat saya duduk di bangku SMA, Bahasa dan Sastra Mandarin saya juga sangat buruk, buruknya sampai sejauh mana? Pastinya lebih buruk dibanding kalian! Karena sewaktu saya SMP, saat ujian masuk SMA, keseluruhan ada tujuh mata pelajaran yang diuji, minus delapan puluh delapan poin, tujuh mata pelajaran minus delapan puluh delapan poin, satu mata pelajaran Mandarin minus empat puluh empat poin, sama dengan nilai total empat mata pelajaran lain. Saya ingat saat SMP masih ada sebuah pertanyaan berbunyi "Lǎo Qì": A "Héng Chūn"; B "Héng Xià"; C "Héng Qiū"; D "Héng Dōng", yakni musim semi, panas, gugur, dingin. Saya merasa pertanyaan ini sedang menghina saya, namun saya memang tidak bisa mengerjakannya. Saya masih menyanyikan sebuah lagu di sana, bernyanyi satu kata menunjuk satu pilihan, lihat sampai terakhir tertunjuk pilihan yang mana, kemudian juga salah menjawab. "Lǎo Qì" apa? Héng qiū (artinya bergaya kuno dan kolot). Mengapa kalian menjawab begitu cepat? Terhadapku adalah suatu hal menyakitkan.
Duduk di bangku SMA, nasib buruk pun masih belum tertanggulangi, benar-benar tidak dapat membangkitkan semangat. Jadi saat belajar, pernah sekali guru Sastra Mandari memanggil saya kemari, dia berkata: Cai Lixu, kamu sewaktu kelas Sastra Mandarin saya, andaikan tidur lagi, terus tidur sejenak, saya akan mencatatmu sebagai absen. Jadi Sastra Mandarin saya, saat ujian masuk perguruan tinggi juga tidak lulus. Tetapi selama berada di bangku SMA, dalam otak saya ada dua kali merasa seperti mendapat pencerahan, yaitu pada saat membaca dua buah susastra. Susastra yang pertama adalahMemo Pengutusan Pasukankarangan Zhuge Liang, di dalamnya menyebutkan "berdedikasi sepenuh hati dan hormat, sampai titik darah penghabisan". Tadinya yang masih tertidur, tiba-tiba bagaimana? Tiba-tiba merasa kalimat ini mengapa begitu mencengangkan! Tetapi cerah selama lima detik saja, setelah itu terselimuti awan mendung lagi. Ayat yang kedua ada padaCatatan Menara Yueyangkarangan Fang Zhongyan, di dalamnya menyebutkan "risau sebelum orang dunia ini risau, dan bersenang setelah orang dunia ini bersenang", pada kenyataan juga benar-benar bukan sangat paham, namun pun ada perasaan haru yang tak terjelaskan. Kemudian mulai bersinggungan dengan ilmu orang kudus dan bijak, sering pada saat membacaCerita Pendidikan Moral, pun membaca hingga terharu tak tertahankan, benar-benar sangat tersentuh, merasakan iktikad orang kudus dan bijak benar-benar sangat welas asih dan sangat lapang. Setelah merasakan, kita pun harus mulai meneladaninya.
Jadi pada saat saya kuliah di sekolah tinggi keguruan, kebetulan berjarak agak jauh dari rumah, saya sangat pagi sudah pergi naik kerata api, dan pada saat sampai, semua teman sekelas pada hari pertama masuk sekolah masih belum tiba, hanya saya seorang saja. Saat itu kebetulan baru selesai libur musim panas, sekali masuk ke dalam, bagaimana keadaan semua kursi dan meja? Satu lapisan debu. Teman-teman sekalian, apa yang akan Anda lakukan? Kami pun berpikir, tiba-tiba sendiri menjadi sutradara, di dalam benak terbayang teman-teman perempuan sekali berjalan masuk, kebetulan melihat debu tersebut, teman-teman perempuan tersebut akan memiliki tanggapan apa? Dia akan berkata: Mengapa begitu kotor! Kami pun dapat membayangkannya, mereka pasti akan ada ketidasedapan seperti itu. Jadi saya pun bergegas ke dalam kampus, mencari sebuah kain lap di dalam toilet, lalu mengelapnya dari depan sampai belakang. Mengelapnya dengan sangat cepat, mengapa? Sangat takut orang lain melihatnya, demikian akan tampak terlalu berpura-pura, maka menyelesaikan pengelapan dengan cepat. Setelah selasai mengelap, sendiri juga merasa hari ini tidak sia-sia, dapat melayani orang lain. Jadi kemudian, teman-teman yang masuk semuanya pun juga duduk dengan sangat tenteram.
Ketika Anda memiliki suatu niat untuk orang lain, apakah Anda sudah ada pertukaran dengannya? Kita manusia punya semacam kemelekatan, seolah-olah harus bertatap muka, kemudian berbicara, barulah disebut komunikasi; sebenarnya tidaklah begitu, ketika niat Anda bangkit, Anda telah berkomunikasi dengan orang di sekitar. Jadi teman sekelas kami dalam tahun ajaran itu pun semuanya sangat akur denganku. Saat seminar, pada malam hari juga ada teman seperguruan tinggi kami yang datang untuk mendengar, saya juga sangat bersukacita. Karena kami punya sebuah niat untuk melayani orang lain tersebut, secara alami akan membuat orang lain berinteraksi sangat ramah dengan kami. Karena saya datangnya lebih awal, maka sampah di belakang ruangan kelas, saya pun berinisiatif untuk membuangnya ke luar setiap hari. Alhasil membuang tidak telalu lama waktunya, ada sekali saat saya ingin membuang sampah, seorang teman pun berlari kemari: Anda jangan buang lagi, biar kami saja yang buang. Jadi benar-benar, antara teman, kita pastinya harus terlebih dahulu bersumbangsih dengan sepenuh hati, maka niat kita ini akan dapat membangkitkan niat menuju kebajikan dan rasa saling pengertian dari setiap orang.
Tadi kita membahas tentang bagaimana untuk menasihati antara lima hubungan manusia, juga menyebutkan begitu banyak contoh, tujuan menyebutkan contoh-contoh tersebut adalah untuk mengembangkan iktikad kita semua, dan juga kebijaksanaan dalam bertindak dan berinteraksi dengan orang lain, serta kesabaran kita. Saya yakin pada hari mendatang, dalam kehidupan setiap teman akan ada satu per satu pertunjukan seru yang bakal tertayang. Kita teruskan dengan melihat ayat berikutnya:
Qīn Yǒu Jí. Yào Xiān Cháng. Zhòu Yè Shì. Bù Lí Chuáng. Sāng Sān Nián. Cháng Bēi Yè. Jū Chù Biàn. Jiǔ Ròu Jué. Sāng Jìn Lǐ. Jì Jìn Chéng. Shì Sǐ Zhě. Rú Shì Shēng.
[Terjemahan harfiah:
"Orang tua sakit. Obat cicip dahulu. Rawat siang malam. Tidak tinggalkan ranjang. Kabung tiga tahun. Sering rintih sedih. Ubah tata rumah. Pantang arak daging. Kabung penuh ritual. Sembahyang penuh tulus. Layan yang wafat. Bagai masih hidup."
Terjemahan:
"Bila Orang tua sakit. Cicipi obatnya dahulu. Merawatnya siang malam. Tidak meninggalkan ranjang. Berkabung tiga tahun. Sering merintih sedih. Mengubah tata rumah. Berpantang arak dan daging. Berkabung penuh dengan ritual. Sembahyang penuh dengan tulus. Layani yang wafat. Bagaikan masih hidup."]
『Orang tua sakit, obat cicip dahulu, pada saat orang tua sakit, putra putrilah yang terlebih dahulu merasakan suhu obat ini terlalu panas atau tidak, tidak terlalu panas barulah disuguhkan kepada orang tua untuk diminum. Ini juga menandakan bahwa anak berbakti saat menghadapi orang tua yang sakit, beliau pun selalu berada di sisi untuk merawatnya. Kisah ini asalnya dari Kaisar Wen zaman Dinasti Han, kita semua tahu "Era Kemakmuran Wen Jing", dan Wen serta Jing dua orang kaisar tersebut dapat mengurus negaranya dengan begitu baik, dasarnya juga pada pengurusan dunia dengan rasa bakti. Sebenarnya jika ingin mengatur organisasi dan rumah tangga dengan baik, bahkan mengatur negara dengan baik, sama sekali tidak serumit yang dibayangkan. Kaisar Wen merawat ibunya persis selama tiga tahun, ibunya sakit selama tiga tahun, beliau pun demikian dengan tangannya sendiri menyajikan obat rebus, kemudian kondisi kesehatan ibunya juga semakin membaik.
Lalu di zaman kini pernahkah Anda dengar ada putra putri yang selalu berada di sisi saat orang tuanya sakit? Pasti ada. Karena seperti yang dikatakan Lao Tzu dalamKitab Moral(Dào Dé Jīng)", saat negara kacau balau, Anda barulah bisa melihat siapa bawahan yang setia. Saat orang semakin lama semakin tidak berbakti, dari sana Anda juga dapat melihat anak berbakti yang hakiki, beliau tidak akan terbawa arus besar zaman, beliau akan bertegak teguh tak tergoyahkan; saya juga yakin saat beliau dapat melakukan perilaku demikian, tubuh orang tuanya juga akan pulih dengan sangat cepat. Kita sebelumnya juga pernah membahas tentang "Meng Zong Menangisi Bambu", berhubung sebuah hati yang tulus memengaruhi rebung tersebut pun tumbuh keluar, ibunya setelah memakannya juga luar biasa sukacita, maka penyakitnya pun sembuh.
Dari segi tersebut, kami akan bilang dengan anak-anak, bila sekarang ibu sedang sakit, apakah obat tersebut perlu kamu cicipi dahulu? Tentu saja andai yang diminum ibu adalah obat Tiongkok maka boleh mengecapnya, apakah terlalu panas; andai yang diminum adalah obat medis, boleh tidak "cicipi obatnya dahulu"? Jadi kita dalam mengajarDi Zi Gui, setelah menangkap makna dari setiap ayat, namun haruslah sesuai dengan kondisi sehari-hari, jika tidak maka nantinya obat tersebut diminumnya, ibunya berkata: Mengapa kamu berbuat demikian? Guru kami yang mengajarkan, "bila orang tua sakit, cicipi obatnya dahulu". Oleh karena itu, maka kami membimbing anak lebih lanjut, saat kamu menyunguhkan segelas air hangat tersebut, harus mempertimbangkan jangan terlalu dingin juga jangan terlalu panas. Kita juga akan membimbing anak untuk berpikir, yakni saat orang tua sedang sakit, ataupun saat ada kondisi darurat, kita selaku anak harus bagaimana dalam menghadapinya? Andaikata ibu kebetulan ada tekanan darah tinggi, mendadak sakit dan jatuh tumbang, anak tersebut harus bagaimana? Jadi teman-teman sekalian, manajemen krisis, tidak hanya kewiraswastaan yang bicara soal manajemen krisis, dalam rumah tangga juga harus ada manajemen krisis. Anda sejak kecil sudah mengajari anak, saat menghadapi beberapa situasi darurat harus bagaimana menanganinya, dia pun akan sangat mengerti bagaimana saat darurat mampu menangani masalah dengan kalem tak tergesa-gesa.
Jadi dari segi apa saja yang seharusnya diperhatikan? Di mana obat ditempatkan? Pada saat darurat, bagaimana mendapatkan obat-obat tersebut? Andai ada setumpuk obat di sana, dalam keadaan panik apakah dapat menemukannya? Kalang kabut. Selanjutnya, nomor telepon pertolongan darurat berapa? 119, 110, untuk minta tolong. Selanjutnya, nomor telepon sanak saudara terdekat lainnya, semua itu harus membuatnya tahu setiap saat, agar saat bertemu pun ia tahu bagaimana menanganinya. Bahkan saat orang tua sedang terbaring sakit di ranjang, harus bagaimana merawatnya, Anda pun perlu membuat anak tahu, bahkan memberinya peluang untuk melakukan. Saya yakin selama proses melakukan ia mampu mengerjakannya semakin lama semakin teliti, semakin bisa pengertian terhadap letak penderitaan pasien, ataupun letak kebutuhannya. Oleh karena itu, ini adalah "bila orang tua sakit, cicipi obatnya dahulu". Kita dapat mengembangkannya lagi lebih luas, mengajarkan anak metode-metode dan sikap-sikap tersebut.
Saat seseorang sakit, selain perlu mengatasi penyakit tersebut, hal apa lagi yang seharusnya dapat dilakukan, barulah dapat membuat penyakit orang tua, bahkan penyakit anggota keluarga kita untuk lebih cepat sembuh? Ini juga layak untuk dipikirkan. Dengan perkataan awam, "dokter dapat mengobati penyakit, tidak dapat mengobati nyawa", Anda lihat banyak sekali orang yang sangat kaya, ia juga tidak dapat panjang umur. Jadi seseorang ingin panjang umur, juga harus memohonnya sesuai kebenaran dan hukum, di antara langit dan bumi, asalkan Anda memohon sesuai hakikat dan hukum maka semuanya dapat terkabulkan. Pada pelajaran sebelumnya kita telah menyebutkan, derma harta adalah penyebab sejati untuk memperoleh kekayaan, bak ungkapan bahwa semua fenomena ada sebab dan kondisi barulah bisa muncul.
Bagaimana meningkatkan kepintaran dan kebijaksanaan seseorang? Derma ilmu memperoleh kepintaran dan kebijaksanaan, poin ini saya lumayan merasakannya. Saya ingat saat saya ingin mengikuti ujian masuk sekolah tinggi keguruan, maka pergi ke lembaga kursus untuk les, saat itu saya juga menaruh beberapa harapan terhadap diri sendiri, yakni sekali pelajaran siap dipelajari harus segera mengerti, juga sangat fokus, lalu pun duduk di barisan tiga depan. Karena yang duduk di depan pada dasarnya lebih banyak siswa perempuan, lalu tinggi badan saya juga agak sedikit tinggi, jadi orang di belakang semua tahu kalau di depan ada siswa yang kepalanya menonjol keluar. Karena banyak sekali siswa perempuan yang matematika, fisika, dan kimianya lumayan kurang, maka mereka sering mampir bertanya kepada saya, saya pun sering menghabiskan waktu, menjelaskan kepada mereka pertanyaan yang mereka tidak bisa. Ada salah satu teman saya yang sangat dekat pun berjalan kemari, menepuk meja saya, memukulnya, dia berkata: Kamu mengajar teman ini saja sudah mengajar lebih dari satu jam, kamu sendiri masih perlu belajar tidak? Dia itu sudah tidak tahan lagi melihatnya, mengapa kamu menghabiskan begitu banyak waktumu sendiri untuk orang lain? Saya pun bersenyum kepadanya, saya berkata: Sebenarnya saya menjelaskan kepadanya, saya sendiri yang memperoleh paling banyak, karena ia hanya ingin bisa mengerjakan soal ini, saya itu mesti mengajarnya sampai bisa, ini tidak sama! Pemikiran kami harus lebih jelas dan lebih mendalam.
Saya mengajar orang lain matematika, tetapi saya sendiri jarang sekali mengerjakan sangat banyak latihan, karena juga tidak ada waktu, ada banyak sekali teman sekelas yang sampai mengerjakan soal latihan dari lembaga kursus lain. Alhasil pada saat ujian, tahun pertama ujian, saya memperoleh nilai sembilan puluh untuk matematika, nilai maksimalnya adalah seratus, nilai saya sembilan puluh. Tahun kedua ujian guru pengganti, pun tidak ada belajar, karena juga tidak ada waktu, juga memperoleh nilai delapan puluh delapan; tahun ketiga ujian lagi, juga memperoleh nilai delapan puluh delapan pula. Ini menandakan derma ilmu Anda pada saat itu, Anda pada saat itu dengan sangat sukacita menjelaskan kepada orang lain metode-metode tersebut, kemampuan Anda sendiri untuk menalar logis pun semakin lama semakin meningkat. Jadi benar-benar, derma ilmu memperoleh kepintaraan dan kebijaksanaan.
Berhubung perasaan tersebut, saya sering menanyakan sebuah pertanyaan kepada teman-teman, saya tanya apakah daya ingat berbanding terbalik dengan usia? Iya bukan? Bukan. Pada umumnya orang berkata hidup semakin tua, daya ingatnya bagaimana? Akan melemah. Hidup semakin tua daya ingat semakin melemah adalah hasil, apa penyebabnya? Tidak digunakan lagi. Masih ada lagi? Terlalu banyak kegelisahan! Setiap hari terselimuti awan mendung, berpikir sampai akhirnya pun tidak ingat lagi semuanya! Jadi mengapa daya ingat seseorang melemah? Anda tidak menggunakannya, lalu ada setumpuk kegelisahan, pastinya akan semakin lama semakin melemah. Guru Li Bingnan saat mengajar pada usia sembilan puluh tujuh tahun apakah perlu membuka buku? Tidak perlu! Benar! Oleh karena itu, saya sejak usia dua puluh lima tahun mulai belajar kitab klasik orang kudus dan bijak, juga sangat serius mempelajarinya, daya ingat saya pun terus bertahan pada tingkatan demikian. Memang benar bahwa menderma ilmu dapat memperoleh kepintaran dan kebijaksanaan. Lagi pula setiap orang pun mampu melakukannya, kita harus tahu, Mensius berkata kepada kita,"Siapakah Shun? Siapakah aku? Yang telah melaksanakannya tiadalah beda". Baik, ini adalah derma harta, yang kedua adalah derma ilmu.
Yang terakhir, derma ketidaktakutan memperoleh kesehatan dan panjang umur. "Ketidaktakutan" yakni membuat orang lain bebas dari rasa ngeri, ini disebut ketidaktakutan. Kita angkat sebuah contoh yang paling konkret, contoh yang paling nyata, wanita Singapura berusia seratus enam tahun yang bernama Teresa Hsu. Beliau tiada hentinya membantu orang lain untuk bebas dari derita penyakit, bahkan kesulitan dalam hidupnya, beliau pun berinisiatif untuk membantunya. Beliau pada usia lima puluhan tahun baru belajar untuk menjadi perawat, semangat tersebut benar-benar membuat kami sangat kagum. Beliau selalu membantu orang lain, setiap kali menyelesaikan penderitaan orang lain, jadi beliau pun memperoleh apa? Kesehatan dan panjang umur. Usia seratus enam tahun jalannya sangat cepat, saat berbicara juga sangat bersemangat, tidak kelihatan telah berumur ratusan tahun. Oleh karena itu, kebenaran harus melalui verifikasi kita sendiri, dengan begitu keyakinan Anda barulah akan sangat penuh.
Kebetulan sebelum saya pergi ke Australia, kakek saya (saat itu berusia delapan puluh empat tahun) mengalami stroke. Pada saat beliau stroke, tengah malam itu, kami bergegas menuju rumah sakit, alhasil dokter pun berkata: Usia delapan puluhan, kita tidak berani melakukan pembedahan, namun karena yang tersumbat adalah seluruh pembuluh darah (stroke pada umumnya itu bagaimana? Satu saluran saja, ini adalah seluruh pembuluh darah yang tersumbat), jadi kalian bersiap-siaplah untuk mengurus pemakaman. Ayah saya dan paman-paman serta bibi-bibi saya semuanya sangat berbakti, menghadapi kejadian tiba-tiba ini, karena kakek saya juga tidak ada penyakit jantung, bertubuh tinggi dan kurus, tubuhnya juga kelihatannya sangat sehat, namun sebenarnya telah ada  gejala yang muncul, cuma tidak terperhatikan. Karena selama masa itu, kakek saya pun merasa kepalanya pusing, karena juga tidak terpikirkan, beliau juga tidak punya tekanan darah tinggi, kepalanya pusing, maka mengira mungkin hanya pilek, jadi gejala tersebut pun tidak ditemukan.
Saya melihat ayah dan juga para tetua semuanya panik, pada saat itu saya pun berkata kepada ayahku, saya bilang derma ketidaktakutan memperoleh kesehatan dan panjang umur. Jadi saya berkata: Pa, Anda sekarang harus memberikan saya lima puluh ribu dolar, pastinya harus uang kakek saya, karena mengambil uangnya untuk menderma ketidaktakutan, bantuan terhadapnya paling langsung. Tentu saja ayahku juga cukup memercayaiku, pun memberikannya kepadaku. Kemudian saya pergi ke ruang perawatan intensif, saat tiba di sana saya pun berkomunikasi dengan kakek saya, saya berkata: Masa kini orang yang miskin dan orang yang menghadapi kelaparan lumayan banyak, kita masih ada kemampuan lebih maka bisa membantu mereka. Alhasil kakekku pun menganggukkan kepalanya, satu kata pun tidak dapat diucapkannya. Saya pun bergegas menyumbang uang untuk bantuan bencana internasional, untuk membantu orang-orang yang kesulitan tersebut. Alhasil setelah lima hari opname di ruang perawatan intensif, kakek saya pun dipindahkan ke ruang rawat inap umum. Jadi benar-benar Anda harus memverifikasinya.
Kemudian setelah pindah ke ruang rawat inap umum, dokter pun menambahkan: Penderita stroke usia delapan puluhan, tidak akan mungkin bisa jalan lagi, kalian harus bersiap sedia. Lalu pada saat itu saya telah berhenti bekerja demi pergi ke Australia untuk belajar, saya pun berjanjian dengan kakek saya, saya bilang "Lain kali saat saya pulang, Anda harus berjalan di hadapan saya", membuat janji demikian dengan kakek saya. Kemudian setelah saya pergi ke sana, karena Pure Land Learning College sedang melatih banyak sekali guru untuk menyebarkan ilmu orang kudus dan bijak, jadi saya juga membawa sejumlah uang ke sana untuk disumbangkan, juga menyumbangkannya atas nama kakek saya. Kebetulan hari itu setelah menyumbang, saya membuat sebuah panggilan telepon kepada ibu saya, ibu saya berkata: Kakekmu hari ini sudah bisa berjalan. Jadi sangat banyak kebenaran, kita pasti harus menggunakan hati yang penuh tulus untuk membuktikannya, orang kudus pasti tidak akan mungkin berbohong. "Bila orang tua sakit, cicipi obatnya dahulu", selain mengobati penyakitnya, masih harus mengobati nyawanya, saat derma ketidaktakutan seseorang semakin banyak, tubuhnya barulah dapat semakin sehat.
『Rawat siang malam, tidak tinggalkan ranjang, ini adalah suatu perilaku yang ditampilkan oleh hati penuh tulus dari anak berbakti, tentu saja andai tubuh Anda tidak begitu baik, juga jangan tetap berteguh, saat patut beristirahat maka istirahat sejenak. Tetapi asalkan orang tua membutuhkan Anda, setidaknya Anda pun dapat secara langsung mengetahuinya, Anda juga boleh tidur di sampingnya, lalu mengambil seutas tali dan mengikatnya dengan baik, asalkan ibu atau ayah Anda membutuhkan, sekali tarik, Anda pun bangun. Kita harus tahu untuk berluwes, Anda jangan bilang bahwa Kaisar Wen dari Han pun tidak tidur, saya juga mempelajarinya, tidak perlu demikian.
『Kabung tiga tahun, sering rintih sedih, ini menunjukkan bahwa orang tua telah meninggal dunia. Di dalamKitab Baktiada sepatah petuah yang sangat penting, yang menyebutkan "saat melayani penuhkan rasa hormat, saat merawat penuhkan rasa senang", kita menggunakan rasa hormat, menggunakan sebuah hati yang ingin membuat orang tua sukacita untuk merawat mereka; "saat sakit penuhkan rasa risau, saat berkabung penuhkan rasa duka, saat sembahyang penuhkan rasa khidmat", yakni sewaktu menyelenggarakan perkabungan, kita harus merindukan budi orang tua, sewaktu sembahyang harus penuh dengan rasa khidmat, tidak melupakan petuah orang tua, ini adalah tugas pokok yang seharusnya ditunaikan oleh anak berbakti. Jadi sewaktu ritual berkabung, kita juga harus menyelenggarakannya penuh dengan rasa khidmat, jangan ingar-bingar. Adakalanya menyelenggarakan perkabungan masih mengundang segerombolan orang untuk membantu menangis, bermakna tidak bila demikian? Manalah bermakna! Seharusnya budi orang tualah yang sering kita ingat dalam hati. Dan Ouyang Xiu ada sepatah petuah yang sangat baik, beliau berkata "sembahyang dengan berlebihan, tidak sebaik merawat dengan bercukupan", sebaik apa pun persembahan saat sembahyang, tidak sebaik merawat orang tua dengan baik saat mereka masih hidup, lebih bermakna. Sewaktu hidup tidak merawatnya, saat meninggal dunia menghabiskan segitu banyak uang, itu benar-benar terlalu terbalik!
Jadi sekarang orang tua kita masih sehat walafiat, harus sangat menghargainya, merawatnya dengan baik; saat orang tua pergi, kita juga akan merasa sangat mantap dan sangat lega, bagaimanapun juga kita telah berdedikasi. Zaman dahulu ada sebuah pepatah, "pohon ingin bertenang namun angin tidak berhenti, anak ingin berbakti namun orang tua telah tiada", penyesalan seperti ini jangan sampai lagi terjadi pada diri kita sendiri. Jika orang tua Anda telah meninggal dunia, apakah Anda masih dapat mendedikasikan rasa baktimu? Tentu saja bisa, asalkan Anda berdedikasi penuh "membina diri dan menjalankan hakikat, terkenal sampai ke generasi berikutnya", maka dapat "membanggakan orang tua". Dan kita juga berdedikasi penuh untuk mengajarkan anak kita sendiri dengan baik, agar garis keturunan klan kita dapat semakin lama semakin baik, ini juga dapat melegakan hati arwah orang tua yang telah meninggal. Jadi ritual berkabung diselenggarakan penuh dengan rasa khidmat, dapatlah dilaksanakan menurut keinginan orang tua. Lalu pada ritual berkabung tersebut, kita beserta segenap klan, mengenang kontribusi orang tua kita seumur hidupnya terhadap klan ini, dan juga harapan yang ditaruh orang tua kepada klan ini, disampaikan lewat ritual berkabung.
"Berkabung tiga tahun", "tiga tahun" ini adalah etiket kuno, harus berkabung selama tiga tahun. "Sering merintih sedih", sangat banyak orang pun menjelaskannya menurut tulisan tersebut, ia bilang: Harus menangis tiga tahun, bukankah itu sangat melelahkan! Jadi menjelaskan makna menurut tulisannya, orang kudus dan bijak pun berteriak dizalimi! "Sering merintih sedih" ini adalah emosi yang secara alami akan dimiliki oleh seorang anak berbakti. Karena anak berbakti setiap niatnya selama puluhan tahun adalah mengenang budi orang tua di dalam hatinya, saat orang tua meninggalkannya, beliau sangat sulit menerimanya, asalkan teringat kembali orang tuanya, air matanya pun akan mengalir tidak tertahankan, jadi "sering merintih sedih".
Karena ada rasa rindu tersebut, barulah akanubah tata rumah, pantang arak daging, jadi "etiket" sebenarnya berasal dari lubuk hati seseorang, yang dicerminkan keluar secara alami. Orang tua pun telah tiada, apakah beliau masih akan pergi berpesta pora? Tidak akan mungkin. Orang tua telah meninggal, maka "mengubah tata rumah", secara alami terhadap berbagai pengaburan, terhadap arak dan daging pun tidak ingin mengkonsumsinya. Jadi "berpantang arak dan daging".
『Kabung penuh ritual, sembahyang penuh tulus, "sembahyang" ini yakni setiap tahun menyembahyangkan orang tua pada waktu yang ditetapkan, ini adalah keutamaan kita sebagai orang Tiongkok yang sangat baik, jadi ada balai leluhur.Bidal Mengurus Rumah Tangga Zhu Zijuga menyebutkan, "leluhur meskipun jauh, sembahyang tidak boleh tidak tulus",Analekjuga menyebutkan, "waswas ajal dan mengenang pendahulu, moral rakyat kembali kental". Seseorang asalkan sering berpikir bahwa karena adanya orang tua, karena adanya leluhur, hari ini barulah ada kami, selalu ada rasa syukur tersebut, maka hati orang akan sangat kental.
Sembahyang harus penuh ketulusan, setiap kali sembahyang belum tentu harus dilaksanakan dengan sangat rumit, namun yang pasti kita harus mempertahankan secara bersinambung, melaksanakannya untuk dipelajari anak kita. Ada seorang ayah, beliau juga melayani orang tuanya dengan sangat berbakti, kemudian orang tuanya meninggal, beliau pun setiap waktu yang ditetapkan berziarah ke kubur, kedua anaknya pun melihatnya dalam mata. Pada suatu hari TK mereka membagi mereka masing-masing orang sebuah permen, permen yang sangat enak sekali, anak kecil tersebut tidak langsung memakannya di tempat, malahan membawanya pulang dan memberikan kepada ayahnya. Ayahnya juga sangat terharu setelah melihatnya, kemudian anaknya berkata: Ayah, saat kakek dan nenek masih hidup, setiap kali Anda mempunyai sesuatu pun akan terlebih dahulu diberikan kepada kakek dan nenek; biarpun kakek dan nenek telah meninggal, Anda juga sering membawa sesuatu untuk dipersembahkan, hari ini TK kami membagi kami dua buah permen, juga diberikan dahulu kepada ayah. Jadi ini adalah atasan melaksanakan bawahan meneladani.
Layan yang wafat, bagai masih hidup, sikap dalam melayani orang tua tidak berbeda sama sekali dengan waktu masih hidup. Harapan dan petuah orang tua terhadap kami, niscaya tidak akan karena kepergian orang tua maka mengalami perubahan, bahkan harus lebih berupaya barulah benar, harus tidak mengecewakan budi asuhan orang tua. Ada seorang anak kecil, kebetulan neneknya meninggal dunia, mereka pun duduk di atas mobil jenazah, omnya membopong guci abu neneknya. Selama perjalanan ini agak bergoncang, omnya segera memberitahu yang memandu mobil: Pandulah lebih lambat, karena ibuku tidak terbiasa menumpangi mobil cepat. Anak ini setelah melihatnya juga sangat terharu, saat kembali ke sekolah pun berkata kepada guru mereka: Guru, apakah perilaku om saya ini adalah "layani yang wafat, bagaikan masih hidup"? Jadi teman-teman sekalian, jangan meremehkan, anak-anak sangatlah tanggap.
Kita bahas sampai di sini saja ayat pada "di dalam harus berbakti". Mengajar anak "bakti" ada sangat banyak metodenya, kita pun dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan dengan baik. Mari kita berpikir sejenak, mengajarkan anak rasa bakti, ada metode penting apa saja, kita coba tangkap pedomannya. Yang paling penting adalah apa? "Memberi teladan dengan perbuatan"! Jawaban standar, mari, beri tepuk tangan untuk diri sendiri! Memberi teladan dengan perbuatan, ini sangatlah penting. Mengajarkan bakti, yang kedua harus "kerja sama orang tua dan guru". Guru juga mengajar, orang tua di rumah pun berkoordinasi, perilaku anak dengan sangat cepat dapat sesuai dengan aturan. Jadi ada TK di kota Shenzhen, orang tua murid mereka setiap minggu akan mengikuti kelas pendidikan keluarga, pun belajarDi Zi Gui, belajar seayat demi seayat. Jadi orang tua murid dan guru pun berkoordinasi dengan sangat baik, pembalikan perilaku pada anak pun luar biasa cepat, karena guru dan orang tua adalah yang paling berpengaruh pada masa kecil anak. Anda lihat anak-anak pada masa kecilnya, buka mulut tutup mulut itu semuanya adalah apa? "Kata papa saya", "Kata mama saya". Setelah masuk TK bilang apa? "Kata guru kami". Jadi peluang yang begitu bagus harus digunakan dengan baik, kerja sama orang tua dan guru.
Selanjutnya, harus "koordinasi suami dan istri". Guru mengajarnya sedikit, tidak masalah, karena guru belum tentu mengerti pentingnya mengajarkan rasa bakti, tentu saja, saat guru tidak mengerti, Anda seharusnya bagaimana? Harus membawaDi Zi Guiuntuk diberitahu kepada guru. Karena masyarakat adalah sebuah keinteraktifan, kita pun jangan meremehkan kekuatan kita sendiri, pergerakan sangat banyak sekolah di daerah Haikou, pun dipicu oleh orang tua murid. Ketika guru belum mengajarkan, kita harus segera mengajarkannya, maka itu suami istri dapat berkoordinasi. Karena Anda selaku ibu, andai Anda berkata kepada anakmu: Nak, ibu melahirkanmu sangat susah payah, kamu harus berbakti kepadaku. Apakah Anda mampu melontarkannya? Sepertinya terasa aneh, tidaklah mungkin mengklaim jasa sendiri. Pada saat tersebut ayah dapat mengajarkan anak untuk berbakti kepada ibu, ayah boleh berkata: Nak, kamu boleh tidak berbakti kepada saya, tetapi kamu harus berbakti kepada ibumu. Mengapa? Karena ibumu pada saat hamil begitu susah payah, setiap hari mual dan muntah. Anda pun menuturkan satu per satu semua jerih payah ibunya, semakin tulus Anda menceritakannya, anakmu mungkin mendengar sampai setengah, air matanya pun menetes, dia tahu budi maka akan dapat membalas budi! Anda jangan sampai mengatakan: Guru Cai, adegan itu saya tidak tahu, saya waktu itu sibuk. Menjadi suami seperti ini tak memenuhi syarat, seharusnya banyak menemani istri. Jadi suami berkata demikian, pun dapat membuat anak terhadap budi ibunya mampu mengerti untuk diamati dan dihargai.
Istri harus membantu siapa berbicara? Membantu suami berbicara, harus memberitahu anak, ayah bekerja sangat susah payah, membuat dia merasakan jerih payah ayahnya setiap hari, dia secara alami terhadap ayah akan tumbuh rasa bakti yang penuh hormat. Apakah Anda pernah membantu suamimu dengan mengatakan yang baik? Harus bilang! Dengan begitu barulah dia bisa memahami jerih payah sebagai orang tua. Ada beberapa wanita bukan hanya tidak membicarakan jasa suaminya, adakalanya masih di depan anak mengomeli suami sendiri, "Ayah kamu ini …", ucapan seperti ini melanggar tabu komandan militer. Ucapan seperti ini akan menimbulkan dampak yang tidak baik seperti apa? Rasa hormat anak terhadap ayah memudar sedikit demi sedikit. Hari ini tidak peduli suamimu membuat hal apapun yang tidak baik, kita harus dapat "menutup keburukan menyebarkan kebajikan". Anda pun mencari yang tidak baik saja, maka anak terhadap ayah sama sekali tidak hormat. Ketika anak terhadap ayah tidak hormat, dapatkah sang ayah merasakannya? Dia berkata: Istri memandang rendah saya, bahkan anak juga memandang rendah saya, baik, saya akan benar-benar jahat! Mungkin secara tidak tampak telah mendorongnya keluar dari rumah. Manusia tentunya adalah baik-buruk saling bercampur, pada saat tersebut Anda pun sering membicarakan apa saja yang sangat baik dari ayahnya, sang anak akan berkata kepada ayahnya: Ayah, Anda dalam hal itu sangat baik, Anda dalam hal ini juga sangat baik. Sang ayah sekali melihat anaknya begitu memandang tinggi dirinya, maka saya seharusnya lebih menghargai dan lebih membangkitkan hasrat untuk meraih kejayaan, harus tidak mengecewakan dukungan dari anak tersebut. Secara alami dia pun akan berkembang menuju arah yang baik. Jadi suami dan istri juga dapat berkoordinasi bersama-sama dalam mengajarkan rasa bakti.
Dan juga, prinsip pendidikan di dalam keluarga harus konsisten, yakni harus memiliki konsensus. Andaikan prinsip mendidik anak antara suami dan istri tidak sama, maka anak mendengarkan siapa? Andai kakek dan nenek pun ikut campur, maka menjadi kereta kuda berkepala berapa? Pada saat itu anak akan mendengarkan siapa? Anak pasti memilih orang yang mana sembunyi di belakang mereka maka akan bebas masalah, pada saat tersebut akan sulit mendidiknya, jadi benar-benar harus banyak berkomunikasi barulah bisa. Ada seorang wanita, dia sendiri juga secara diam-diam mengajarkanDi Zi Guiterlebih dahulu, dan juga tidak berkata "Pak mertua, Anda harus berbuat seperti ini","Suami, Anda harus berbuat seperti ini", dia tidak demikian, dia sendiri terlebih dahulu mengajarkan anaknya sedikit demi sedikit. Kebetulan suatu kali anaknya masuk ke kamar kakeknya, kemudian berkata kepada kakeknya: Kakek, bolehkah saya membuka ini untuk dilihat-lihat? Kakeknya tiba-tiba merasa anak ini begitu kecil, tak disangka begitu punya sopan santun, beliau berkata: Siapa yang mengajar kamu? Ia berkata: Ibu yang mengajar saya, kata ibu "perkara meskipun kecil, jangan sembarangan bertindak". Mertuanya sekali mendengarnya sangat girang, segera pergi memberitahu anaknya, ia berkata: Menantu sangat berusaha dalam mendidik anak, kamu harus berkoordinasi denganya baik-baik dengannya. Jadi mertua masih membantunya berbicara. Rumah mereka setiap pagi saat bangun tidur memainkan kaset pelafalanDi Zi Gui, untuk bangun tidur bersama.
Membantu diri barulah orang akan membantumu, dengan sumbangsih kita yang tulus, secara alami pun dapat membuat orang di sekeliling kita secara perlahan-lahan mencapai konsensus. Baik, pelajaran kami hari ini sampai di sini saja, terima kasih semuanya.